azeliasarah's mind

exploration of my mind

Psikosomatik

Nama : Azelia Sarah Yusufa
NPM : 11110265
Kelas : 3KA17
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2
Dosen : Edy Prihantoro,SS.,MMSI
MHS : http://gunadarma.ac.id

Psikosomatik secara harfiah diterjemahkan sebagai berbagai keluhan fisik (somatis) yang disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor psikologis atau psikososial. Keluhan-keluhan ini bisa meliputi sistem pernapasan, kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), kulit, pencernaan, dan urogenital.

Bentuk keluhan pada setiap orang bisa bermacam-macam, tergantung pada sistem tubuh yang diserang. Semua gejala ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk melindungi diri dari serangan emosional atau psikis bertubi-tubi yang datang dari pikiran bawah sadar Anda.

Pada dasarnya, keluhan psikosomatik bergantung pada kemampuan seseorang mengontrol stres. Pada psikosomatik, ketidakmampuan untuk mengontrol stres dipindahkan pada keluhan-keluhan fisik. Tidak heran, ketika sedang stres, orang kerap terserang nyeri di bagian dada, jantung berdebar lebih keras dan kencang, atau mengalami gangguan pencernaan. Makin tinggi tingkat stres, makin berat keluhan yang dirasa.

Profil penderita biasanya terkait dengan orang-orang yang ambisius, perfeksionis, dan sangat berpatokan pada target. Mereka memang lebih rentan terhadap serangan psikosomatik. Karakter ini akan mempersepsi lingkungan menjadi lingkungan berstres tinggi.

Psikosomatik bisa dikelola apabila kita mampu mengelola stres. Namun, sama seperti umumnya masalah kejiwaan, kemunculan psikosomatik bisa dikendalikan. Caranya dengan mengelola stres dan mengontrol respons terhadap stres.

Untuk gangguan psikosomatik yang berkepanjangan, biasanya dokter akan meresepkan antidepresan yang sesuai. Tidak seperti obat penenang atau antitesa, obat antidepresan tidak mengakibatkan ketergantungan pada pasien, sehingga aman dikonsumsi dalam jangka panjang.

A. Pengertian Psikosomatik

Gangguan psikosomatik adalah gangguan jiwa yang dimanifestasikan pada gangguan susunan saraf vegetatif yang sebagian besar disebabkan oleh permusuhan,depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi. Gangguan ini menggambarkan interaksi yang erat antara jiwa (psycho) dan badan (soma). Ada istilah lain yang digunakan untuk menjelaskan gangguan psikosomatik, yaitu gangguan psikofisiologis

Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis (yaitu gangguan psikosomatik ), menyatakan bahwa factor psikologis secara merugikan mempengaruhi kondisi medis seseorang dalam salah satu dari bermacam –macam cara. Factor – factor tersebut mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum, dimana ditunjukkan oleh hubungan temporal yang erat antara faktor psikologis dengan perkembangan atau eksaserbasi dari atau pemulihan yang lambat dari kondisi umum.

B. Penyebab Gangguan Psikosomatik

Pada umumnya pasien dengan gangguan psikosomatik sangat meyakini bahwa sumber sakitnya benar-benar berasal dari organ-organ dalam tubuh. Pada praktik klinik sehari-hari, pemberi pelayanan kesehatan seringkali dihadapkan pada permintaan pasien dan keluarganya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan pencitraan (rontgen).
Biasanya penderita datang kepada dokter dengan keluhan-keluhan, tetapi tidak didapatkan penyakit atau diagnosis tertentu, namun selalu disertai dengan keluhan dan masalah. Pada 239 penderita dengan gangguan psikogenik Streckter telah menganalisis gejala yang paling sering didapati yaitu 89% terlalu memperhatikan gejala-gejala pada badannya dan 45% merasa kecemasan, oleh karena itu pada pasien psikosomatis perlu ditanyakan beberapa faktor yaitu:

– Faktor sosial dan ekonomi, kepuasan dalam pekerjaan, kesukaran ekonomi, pekerjaan yang tidak tentu, hubungan dengan dengan keluarga dan orang lain, minatnya, pekerjaan yang terburu-buru, kurang istirahat.
– Faktor perkawinan, perselisihan, perceraian dan kekecewaan dalam hubungan seksual, anak-anak yang nakal dan menyusahkan.
– Faktor kesehatan, penyakit-penyakit yang menahun, pernah masuk rumah sakit, pernah dioperasi, adiksi terhadap obat-obatan, tembakau.
– Faktor psikologik, stres psikologik, keadaan jiwa waktu dioperasi, waktu penyakit berat, status didalam keluarga dan stres yang timbul.

Permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi adalah akar dari sebagian besar gangguan psikosomatik, factor predisposisi yang menyebabkan terjadinya gangguan psikosomatik berdasarkan teori – teori utama psikosomatik adalah sebagai berikut :

1. Teori Psikososial

Individu – individu memperlihatkan respon – respon psikologis spesifik untuk emosi – emosi tertentu. Sebagai contoh, dalam berespon terhadap emosi marah, seorang individu mungkin mengalami vasokontriksi perifer, yang menghasilkan suatu peningkatan tekanan darah. Dengan emosi yang sama, pada individu yang lain mungkin menimbulkan respon vasodilatasi serebral yang dimanifestasikan dengan suatu sakit kepala migraine.

2. Teori Biologis

Kelainan psikofisiologis terjadi saat tubuh terpajan pada stress yang berkepanjangan, sehingga menghasilkan sejumlah pengaruh fisiologis di bawah control langsung dari aksis hipofisis adrenal. Kecenderungan genetic mempengaruhi system organic yang akan dipengaruhi dan menentukan jenis kelainan psikosomatik yang akan berkembang dalam diri seorang individu.

3. Teori Dinamika Keluarga

Kecenderungan dari individu – individu yang merupakan anggota keluarga dari suatu system keluarga yang disfungsional, dimana menggunakan masalah – masalah psikofisiologis untuk menutupi konflik – konflik interpersonal. Ansietas dalam suatu situasi keluarga disfungsional dipindahkan dari konflik yang terjadi terhadap individu yang sakit.

Ansietas menurun, konflik dihindari dan individu tersebut menerima penghargaan yang positif untuk gejala – gejala yang dialaminya.
Situasi tersebut tampaknya lebih nyaman, tapi masalah yang sesungguhnya tetap belum terpecahkan. penyebab timbulnya gangguan psikosomatik yaitu karena :

* Penyakit organik dahulu

Penyakit organi yang dulu pernah di derita dapat menimbulkan predisposisi untuk timbulnya gangguan psikosomatik pada bagian tubuh yang pernah sakit itu. Misalnya pernah ada trauma kepala sehingga menderita sakit kepala sesudahnya, lalu kelak bila terjadi suatu konflik, maka mungkin timbul lagi sakit kepala; dulu menderita disentri, lalu kemudian dalam emosi tertentu timbullah keluhan pada saluran pencernaan.

* Identifikasi dengan seseorang yang sakit

Penderita itu sangat merasakan penyakit orang lain yang secara tidak sadar di identifikasinya. Misalnya sering sakit perut sesudah usus buntu anaknya dioperasi ; istri mengeluh tentang pernafasan sesudah suaminya meninggal dunia karena TBC paru – paru ; sering sakit kepala waktu saudaranya di rawat di rumah sakit karena meningo – ensefalitis

* Tradisi dan adat istiadat

Tradisi keluarga dapat mengarahkan emosi kepada fungsi tertentu. Misalnya, bila menu diet terlalu diperhatikan maka mungkin nanti sering mengeluh tentang lambung; bila sering ditaku takuti tentang hal – hal seksual, dan konflik tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka timbul impotensi, ejakulasi, prekok atau dismenore

* Emosi yang menjelma secara simbolik elementer

Suatu emosi menjelma secara simbolik elementer menjadi sustu gangguan fisik tertentu. Misalnya bila seseorang cemas, maka timbul keluhan pada jantung; rasa benci menimbulkan rasa ingin muntah; emosi atau afek yang salah terhadap kesucian dapat menimbulkan impotensi atau frigiditas

* Kepercayaan dan anggapan masyarakat

Dapat ditentukan juga oleh kebiasaan, anggapan dan kepercayaan masyarakat disekitarnya. Misalnya, anggapan bahwa klimakterium menyebabkan wanita yang mengalaminya sakit, maka seorang wanita yang mengalami klimakterium dan berada disekitar masyarakat dengan anggapan seperti itu akan mengeluh sakit. Mudah atau sukarnya suatu gangguan psikosomatik tergantung sebagian besar pada kematangan kepribadian individu, berat dan lamanya konflik pada kejiwaan. Konflik pada kejiwaan yang berlangsung lama, terus menerus dan tanpa penyelesaian akan menimbulkan ketegangan pada jiwa serta perasaan tidak nyaman

C. Pengelompokan Gangguan Psikosomatik

penderita di dalam kelompok gangguan psikosomatik menderita gangguan psikosomatik klasik seperti ulkus peptikum dan colitis ulseratif. Dalam proses penyakit tersebut, ditemukan faktor emosional tertentu.

Penderita gangguan psikosomatik secara umum dibagi menjadi 3 golongan, yakni :

1. Mengeluh tentang badannya, tetapi tidak terdapat penyakit badaniyah yang dapat menyebabkan keluhan – keluhan atau tidak di temukan kelainan organic

2. Terdapat kelainan organic, tetapi yang utama menyebabkannya ialah factor psikologik

3. Terdapat kelainan organic, tetapi terdapat juga gejala – gejala lain yang timbul bukan sebeb penyakit organic tersebut, akan tetapi karena factor psikologik ; factor psikologik ini mungkin timbul disebabkan penyakit organic tadi, misalnya kecemasan. Gangguan psikosomatik dapat timbul bukan saja pada orang yang berkepribadian atau emosi labil, tapi juga pada orang dengan emosi stabil, ataupun pada orang dengan gangguan kepribadian dan pada orang dengan psikosa.

D. Gejala – gejala gangguan psikosomatik

Gejala – gejala gangguan psikosomatik merupakan gejala – gejala yang biasa dkenal dengan fungsi faaliah, hanya saja secara berlebihan.gejala – gejala ini biasanya hanya dirasakan pada satu organ tubuh saja, tetapi kadang – kadang juga berturut – turut atau serentak beberapa organ tubuh terganggu.
Keluhan yang disampaikan penderita gangguan psikosomatik biasanya keluhan fisik, sangat jarang yang mengeluh tentang kecemasan, depresi dan ketegangannya.

Para penderita psikosomatik, umumnya mengeluhkan gangguan yang berkaitan dengan sistem organ, seperti :

1. Kardio-vaskuler: keluhan jantung berdebar-debar, cepat lelah
2. Gastro-intestinal: keluhan ulu hati nyeri, mencret kronis
3. Respiratorlus: keluhan sesak napas, asma
4. Dermatologi: keluhan gatal, eksim
5. Muskulo-skeletal: keluhan encok, pegal, kejang
6. Endokrinologl: keluhan hipertiroidi, hipotiroidi, dismenorea
7. Urogenital: kehuhan masih ngompoh, gangguan gairah seks
8. Serebro vaskuler: keluhan pusing, sering lupa, sukar konsentrasi, kejang epilepsi.

Selain itu, masalah kejiwaan yang menyertainya yaitu gejala anxietas dan gejala depresi.
Ciri-ciri Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan fisik yang beragam, antara lain seperti :

1. Pegal-pegal
2. Nyeri di bagian tubuh tertentu
3. Mual,muntah, kembung dan perut tidak enak
4. Sendawa
5. Kulit gatal, kesemutan, mati rasa
6. Sakit kepala
7. Nyeri bagian dada,punggung dan tulang belakang
Keluhan itu biasanya sering terjadi dan terus berulang serta berganti-ganti atau berpindah-pindah tempat, dirasa sangat menganggu dan tidak wajar sehingga harus sering periksa ke dokter.

D. PENANGANAN PSIKOSOMATIK
– Pengobatan tuntas. Pengobatan yang tuntas dan selesai dengan baik memberikan kemampuan pasien untuk mempertahankan dirinya dari kekambuhan akibat penyakit ini kembali. Struktur sistem otak yang sudah baik akan membantu mencegah penyakit ini datang lagi

– Menjaga kesehatan fisik dan mental. Kekambuhan bukan hal yang mustahil dalam gangguan psikosomatik. Bahkan dari penelitian, gangguan psikosomatik yang didasari oleh depresi maka kemungkinan kambuhnya bisa mencapai lebih dari 50% walaupun sudah diobati dengan baik. Kesehatan fisik sangat mempengaruhi kondisi mental dan begitu pula sebaliknya. Pasien yang mengalami psikosomatik memang lebih sensitif terhadap respon fisiknya dan menjadi lebih tidak nyaman saat sakit datang. Kesehatan fisik yang baik dan didukung oleh kesehatan mental yang baik akan sangat berguna untuk mencegah psikosomatik datang kembali.

– Tidur yang cukup dan berkualitas. Saya selalu menekankan pasien saya untuk tidur yang cukup dan berkualitas. Tidur akan membuat tubuh kita relaks dan beristirahat sedangkan jika kita merasa tidak cukup tidur maka badan akan terasa lemah. Jadi usahakan tidur di jam yang baik dan dengan jumlah waktu yang cukup.

E. Pencegahan Gangguan Psikosomatik

Pencegahan adalah suatu bentuk pelayanan yang akan membantu pasien dankeluarga untuk menurunkan factor resiko terhadap penyakit. ada beberapastrategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi stress, yakni :

1. Membangun kebiasaan baru. Misalnya, seorang ibu yang memutuskanberhenti bekerja untuk mengurus anaknya, yang akhirnya merasa bosan tidakada kegiatan ketika anak – anaknya dewasa

2. Menghindari perubahan yaitu upaya yang dilakukan untuk tidak melakukanperubahan yang tidak perlu atau dapat ditunda

3. Menyediakan waktu yaitu menyediakan waktu tertentu atau membatasi waktuuntuk memfokuskan diri beradaptasi dengan stressor.

4. Pengelolaan waktu. Hal ini berguna untuk seseorang yang tidak dapatmengerjakan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan

5. Modifikasi lingkungan

6. Katakan ‘tidak’. Hal ini merupakan salah satu cara lain mengurangi kecemasan, atau perasaan tidak menyenangkan.

7. Mengurangi respon fisiologis terhadap stress seperti latihan teratur, memperbaiki nutrisi dan diet, istirahat, meningkatkan respon perilaku danemosi terhadap stress, memanfaatkan system pendukung (keluarga danteman), meningkatkan harga diri.

**sumber :

http://www.femina.co.id/isu.wanita/kesehatan/waspadai.psikosomatik/005/005/17
http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/03/11/gangguan-psikosomatik/
http://health.kompas.com/read/2012/12/12/10465239/Benarkah.Psikosomatik.Mudah.Disembuhkan.

Single Post Navigation

One thought on “Psikosomatik

  1. Pingback: Lima Belas Faktor Penyebab Penyakit Psikosomatis | azeliasarah's mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: